Sabtu, 21 Maret 2009

TIM SUKSES UJIAN NASIONAL (upaya kemunduran peradaban pendidikan)

. Sabtu, 21 Maret 2009

Dalam kurun beberapa minggu terakhir ini, tulisan saya banyak memasuki ranah pendidikan, hal ini untuk menjadi perhatian bersama menuju pendidikan yang berkualitas sebagaimana telah dicanangkan dalam PROPENAS.

Dalam hitungan hari juga kita akan melangsungkan pesta demokrasi, tentunya banyak sekali pendidikan yang berharga dalam rangka pendidikan demokrasi di Indonesia. Dalam pemilu 2004, para calon legislative bertarung antar partai, tahun 2009, pertarungan sudah memasuki individu dengan individu, sebuah upaya untuk merangkum suara terbanyak partai.

Pertarungan individu dengan individu baik antar partai maupun sesama individu dalam partai memberikan pemahaman kualitas manusia dalam pencalonan legislative mudah dipahami. Mana yang berkualitas dan mana yang hanya memeunhi kuantitatif saja. Dalam upaya agar calon legislative tersebut mendapatkan kursi, tentunya dibutuhkan sim sukses yang solid dan mengakar dengan konstituen. Upaya calon legislative tersebut dapat dimungkinkan tanpa tim sukses, namun sangat beresiko, tidak mungkin tanpa tim sukses dapat meraup suara terbanyak. Atau bisa saja calon legslatif tersebut hanya untuk memenuhi kuota kuantitatif tadi. Sangat disayangkan sekali.

Ibarat permainan bola, pertarungan tim sukses pun berjalan dilapangan, berbagai upaya dilakukan agar calon yang diusung dapat menjadiduduk di parlemen. Upaya tersebut dilakukan dengan berbagai upaya mulai mendatangi majlis taklim, para pemuda, tim pemain sepak bola, tim pemain bola voli, dan bahkan bagi komunitas pemilih pemula.

Upaya tersebut tidak hanya upaya positif saja, namun juga terkadang dengan cara yang kurang bijak dan tidak patut untuk dijadikan sebagai panutan dalam berdemokrasi. Mengingat tahun 2009 adalah suara terbanyak, maka dimungkinkan antar sesama pemain juga terlibat pertarungan menjadi yang terbaik. Karena terkadang antara sesame calon legislative di partai yang samapun terlibat saling sikut-sikutan dengan mengumbar kejelekan masing-masing. Begitulah pendidikan yang diberikan oleh calon legislate di pemilu 2009 menuju kursi legilatif .
Demikian juga dengan Ujian Nasional yang beberapa waktu lagi akan dilaksanakan serentak di Indonesia, semua guru berupaya agar anak didiknya dapat melalui UN dengan baik. Upaya yang dilakukan tentunya sebelum pertarungan dimulai. Mulai dari les setiap hari, hingga uji coba soal-soal yang lama agar dapat diselesaikan oleh para siswa.

Setiap tahun, begitulah rutinitas sekolah semenjak diberlakukannya UN, terkadang sungguh miris sebagaimana terjadi pada tahun 2008 yang lalu, seorang anak yang cerdas dan memenangkan olimpiade tingkat internasional, namun tidak lulus dalam UN, ada siswa yang sangat bandel dan bahkan ugal-ugalan, namun lulus dalam UN. Itulah sebuah realita. Namun ketentuan UN harus dilaksanakan dengan pelajaran yang telah ditentukan tersebut.
Sebagaimana Pesta demokrasi yang diuraikan dimuka, maka dalam upaya menuju pendidikan yang baik, daerah-daerah berupaya untuk menaikkan rate mereka dalam kelulusan UN agar tercipta rate yang baik dalam UN setiap tahu. Tentunya upaya tersebut tidak hanya dilakukan dengan cara yang positif juga namun ada cara-cara yang tidak lazim dilakukan baik oleh pendidik maupun siswa.

Tahun 2008, ditemukan beberapa kasus seperti di Kalimantan, seorang guru tertangkap sedang membantu siswa dengan jawaban yang diletakkan di kamar mandi (toilet) sisw. Begitu juga di Sumatera Utara, Ibu guru dan teman-temanya terpaksa berurusan dengan pihak kepolisian yang telah membocorkan soal UN.

Kenapa hal ini bisa terjadi?itulah yang ada dalam benak semua kita saat ini, sebegitukah dunia pendidikan ini dapat terjadi?siapa lagi yang akan mendidik anak dengan baik?. Kita menyadari semenjak UN dilaksanakan, banyak sekali tim pemantau, baik dari Departemen Pendidikan Nasional Jakarta, Dinas Pendidikan Provinsi, DInas Pendidikan Kabupaten, Dewan Pendidikan, Tim Pemantau Independen, dan lain sebagainya. Jika dikalkulasikan berapa banyak orang berharap kejujuran di negeri ini, proteksi UN terkadang sudah sangat berlebihan, mulai dari pencetakan soal hingga tata cara pendisitribusian sampai kepada peserta ujian. Aturan yang telah dibuat tersebut sebenarnya sulit untuk ditembus, namun sangat mudah bagi yang sudah berpengalaman.

Bicara berpengalaman inilah yang menjadi perhatian kita, karena dibeberapa sekolah di daerah sekarang telah membentuk tim sukses dalam upaya mencapai target yang telah ditetapkan oleh sekolah, jika tahun lalu lulus 100%, maka tahun ini harus dipertahankan, jika tahun lalu lulus kurang memuaskan, tahun ini harus ditingkatkan, itu adalah hal yang wajar karena itu merupakan capaian yang dilakukan sekolah tersebut.

Namun upaya tersebut tentu akan kurang baik, jika menggunakan tim sukses, suatu cara yang tidak fair dalam pertarungan UN, bagi sekolah-sekolah yang tidak memiliki tim sukses tentunya sangat iri dengan mereka yang memiliki tim, karena terkadang tahu sama tahu. Bagi yang tidak memiliki tim sukses mungkin mereka memang mengikuti aturan sebenarnya, atau mungkin saja tidak ada yang mau jadi tim sukses karena takut berurusan dengan pihak berwajib seperti rekan-rekan mereka di Kalimantan, Sumatera Utara dan sebagainya.

MENCAPAI KUALITAS ATAU KUANTITAS
Dalam upaya menuju pendidikan yang diharapkan, dalam UN masih ada yang beranggapan kuantitas yang perlu ditonjolkan, dan sebagian telah menganggap baha UN merupakan upaya meningkatkan kualitas. Beberapa sekolah di Jakarta dan beberapa daerah lainnya, saat ini pertarungan UN bukan hanya mencapai angka kelulusan minimal saja, namun pertarungan sudah individual siswa X dengan siswa sekolah Y. para gurunyapun ikut memacu agar dapat mengalahkan sekolah lain, tidak hanya teman disekolahnya sendiri. mereka selalu berupaya untuk saling mengalahkan sekolah lain. Upaya yang luar biasa, artinya seorang siswa berupaya secara individual dalm menghadapi pertarungan tersebut. Namun muncul pertanyaan, apakah menggunakan tim sukses?wallahua’lam.

Namun urain tersebut merupakan upaya untuk bahwa bukankuantitas lulusan yang menjadi target namun kualitas nilai UN yang tinggi agar dapat mengalahkan sekolah lain. Mungkinkah daerah Bangka Belitung sudah berupaya seperti itu?bisa saja terjadi, namun sebagian mengatakan tidak mungkin terjadi, karena sumber daya guru yang terbatas, sarana dan prasarana yang kurang mendukung merupakan alasan pembenar untuk jawaban tersebut.
Terlepas dari image negatif tentang tim sukses UN selama ini, tentunya dalam UN tahun 2009 mestinya menjadi cerminan apa yang harus dilakukan pada tahun sebelumnya, memang berat tugas yang diemban bagi guru yang terkadang tidak seimbang dengan apa yang telah mereka berikan kepada peserta didik.namun sisi lain apakah kesejahteraan dapat meningkatkan kualitas guru atau sebaliknya guru semakin terlena dengan kesejahteraan yang telah diberikan pemerintah?semua jawaban tersebut ada pada sanubari masing-masing guru. Karena penilaian tersebut ada pada diri masing-masing.

Menuju UN 2009, marilah kita ciptakan ujian nasional yang jujur agar dapat menjadikan kualitas pendidikan kita semakin baik. Dengan adanya tim sukses UN di sekolah-sekolah tentunya merupakan kemunduran peradaban dalam dunia pendidikan kita. Semoga mencerahkan.Jogjakarta, 21 Maret 2009.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

YupZZZ…
jelas Kapitalisme adalah biangnya!!!
sebuah snergi yang memalukan.
sang guru rela menjadi tim sukses demi kelulusan anak didiknya sekaligus berada dibelakang suksesnya UN.

Ck ck... ada apa sbenernya ya???

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

 

Feed Ruri Andari

KOMPAS.com - Nasional

Mengenai Saya

Foto saya
Candidat Doktor,Dosen di Babel, Konsultan Pendidikan, Widiaishwara Badan Diklat Babel,tinggal di Pangkalpinang babel lahir di Pangkalbuluh Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Istri : Maria Susanti, S.Ag, anak 3 orang : Afdila Ilham Isma (lahir di Pekan Baru/Riau), Asyiqo Kalif Isma (lahir di Pangkalpinang, Alziro Qaysa Isma (lahir di Pangkalpinang)
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com